Edukasi Mahasiswa Baru, Webinar Nasional STAH Dharma Sentana Sulteng Bedah Kerauhan dan Fenomena Astral Melalui Pendekatan Teologi Hindu, Psikologi, dan Etnografi.
- Senin, 31 Agustus 2026
- Media Berita
- 0 komentar

PALU – Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Dharma Sentana Sulawesi Tengah menggelar Webinar Nasional bertajuk "Membedakan Kerauhan, Kehadiran Leluhur, dan Fenomena Astral: Pendekatan Teologi Hindu, Psikologi, dan Etnografi" dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).
Webinar ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Komang Indra Wirawan, S.Sn., M.Fil.H. (Dosen Universitas Hindu Indonesia & Ketua Yayasan Gases Bali) dan Dr. Ketut Suparta, ST., M.Si.. Kegiatan yang diinisiasi oleh Panitia PKKMB di bawah kepemimpinan Ketua Panitia I Komang Vika Brahmantara serta didukung Ketua BEM I Gede Indra Lesmana ini bertujuan membekali mahasiswa baru dan umat Hindu dengan pemahaman spiritual yang rasional, bijak, serta berlandaskan viveka (daya pembeda). Acara dipandu oleh Sugiarti, S.Pd., M.Ag. selaku moderator.
Dalam pemaparannya, Dr. Komang Indra Wirawan menekankan pentingnya menyikapi fenomena spiritual secara bijak di era digital. Beliau membedakan fenomena kerauhan, kesurupan, dan kerasukan melalui kerangka Tri Kerangka Agama Hindu (Tattwa, Susila, dan Acara) serta pendekatan multidimensi.
Poin Utama Pembahasan Webinar
• Klasifikasi Kerauhan: Kerauhan sakral terikat ketat oleh Desa, Kala, Patra (tempat, waktu, dan keadaan), menggunakan sarana upakara, mantra, serta tirta, dan divalidasi oleh pemangku atau komunitas adat. Hal ini berbeda dengan kesurupan (respons psikis/emosional akibat stres) maupun kerasukan.
• Perspektif Teologi & Tattwa: Tidak semua fenomena gaib menandakan tingkat pencapaian spiritual tertinggi atau kehadiran Dewata. Dalam Wṛhaspati Tattwa, pengalaman gaib seperti Darśana (penglihatan) atau Śrāvaņa (pendengaran halus) kerap tergolong sebagai Upasarga (halangan spiritual).
• Perspektif Psikologi & Etnografi: Fenomena trance dipengaruhi oleh kondisi perubahan kesadaran (Altered States of Consciousness), sugesti, dan muatan emosional. Secara etnografis, kerauhan merupakan konstruksi makna sosial kolektif yang divalidasi oleh tatanan adat.
• Tantangan Era Digital: Ditengah maraknya klaim supranatural di media sosial, umat diimbau untuk tidak mudah menyimpulkan sensasi fisik (seperti merinding atau mimpi) sebagai kehadiran leluhur tanpa verifikasi.
Melalui pendekatan integratif teologi, psikologi, dan etnografi, kegiatan ini diharapkan dapat menjaga kesucian ritual, kesehatan jiwa, serta martabat budaya Hindu. "Jangan menolak pengalaman spiritual secara apriori, tetapi jangan pula menerima setiap pengalaman gaib tanpa viveka," tegaskan Dr. Komang Indra Wirawan menutup pemaparannya.
Berita Terkait
Wakil Wali Kota Palu Buka PKKMB STAH Dharma Sentana, Dorong Mahasiswa Jadi SDM Berdaya Saing
Senin, 31 Agustus 2026
Wakil Wali Kota Palu Buka PKKMB STAH Dharma Sentana, Dorong Mahasiswa Jadi SDM Berdaya Saing
Senin, 31 Agustus 2026
Program Studi Pendidikan Agama Hindu STAH Dharma Sentana Laksanakan Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Suli Indah
Selasa, 30 Juni 2026
Asesmen Lapangan Akreditasi Program Studi Pariwisata Budaya dan Keagamaan oleh BAN-PT
Senin, 22 Juni 2026
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa Menjadi Keynote Speaker dalam Seminar Nasional Puncak Dies Natalis ke-18 STAH Dharma Sentana Sulawesi Tengah
Senin, 22 Juni 2026
Sukses Gelar 13 Lomba dan Festival Kuliner, Puncak Dies Natalis ke-18 STAH Dharma Sentana Ditutup Seminar Nasional
Senin, 22 Juni 2026
Mantapkan Mutu Akademik, STAH Dharma Sentana Gelar Ujian Komprehensif Berbasis Kombinasi
Senin, 25 Mei 2026
Sambut Dies Natalis ke-18, STAH Dharma Sentana Gelar Laga Persahabatan Voli antara Yayasan dan Pengelola Kampus
Senin, 25 Mei 2026